ilustrasi-narkoba-140623-andri

Jakarta Narkotika dan obat-obat berbahaya, atau lebih beken disebut narkoba, merupakan senyawa yang memberi efek kecanduan bagi para penggunanya, baik secara mental maupun kejiwaan.

Dari sisi ilmu kedokteran, narkoba hanyalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa digunakan para dokter atau rumah sakit untuk membius pasien yang hendak menjalani operasi. Namun, masyarakat tampaknya ada yang salah kaprah mengartikan manfaat narkoba, sehingga menggunakannya melampaui ambang batas. Hal ini yang kemudian memengaruhi susunan sistem saraf (neurologis), jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), kulit (dermatologis), dan paru-paru (pulmoner).

Bahaya narkoba tidak hanya sebatas itu, tetapi juga memengaruhi psikologis seseorang, seperti hilangnya rasa percaya diri dan agitatif serta membawa pengaruh terhadap lingkungan sosial, seperti gangguan mental dan tindakan asusila.

Menurut para ahli psikotropika, serangan yang ditimbulkan setelah mengonsumsi narkoba, sangat bergantung dari jenis narkoba yang dikonsumsi. Narkoba jenis Opioid dapat mengakibatkan depresi berat, apatis, lelah berjalan, kehilangan nafsu makan sampai mual dan muntah. Sementara narkoba jenis kokain membuat denyut jantung bertambah cepat, rasa gembira berlebihan, banyak bicara kemudian gelisah, pergerakan mata tidak terkendali sampai penyumbatan pembuluh darah.

Sementara itu, ganja membuat mata jadi sembab, pendengaran terganggu, tulang gigi menjadi keropos serta menghancurkan saraf mata dan otak. Narkoba jenis ekstasi, membuat seseorang menjadi sangat energik, tapi matanya sayu dan wajahnya pucat, merusak saraf otak dan gangguan liver, dehidrasi dan sulit tidur. Sedangkan narkoba jenis sabu, membuat seseorang jadi paranoid, sulit berpikir serta pecahnya pembuluh darah jantung yang berujung pada kematian.

Bahaya narkoba tersebut kemudian dipelajari dan didalami oleh negara-negara tertentu untuk melumpuhkan kekuatan musuhnya tanpa harus menggunakan sistem persenjataan yang canggih sekali pun. Markas Besar TNI-AD juga menyadari bahwa peredaran dan penyalahgunaan narkoba di kalangan masyarakat hingga oknum aparat TNI-Polri dewasa ini merupakan bagian dari perang modern yang digunakan musuh untuk menyerang suatu negara.

“Perang modern tidak lagi menggunakan kekuatan senjata (hard power) seperti yang dibayangkan masyarakat kita selama ini, tetapi lebih cenderung pada perang proxi (menggunakan pihak ketiga sebagai pelaku perang),” kata Mayjen TNI Heboh Susanto, perwira tinggi militer di lingkungan Pusterad Mabes TNI-AD, seperti dikutip dari AntaraNews, Sabtu (10/3/2018).

Baja Juga

News Feed

Survei: Muslimah Dinilai Lebih Mendukung Kebebasan Beragama

Tue, 27 Mar 2018 01:12:07am

Jakarta - Muslimah Indonesia disurvei soal pandangan toleransinya. Dibanding muslim, ternyata muslimah lebih unggul dalam beberapa aspek soal...

Survei: Mayoritas Muslim Indonesia Antiormas Radikal, yang Pro 9%

Tue, 27 Mar 2018 01:12:04am

Jakarta - Survei nasional menunjukkan muslim Indonesia tak suka terhadap ormas radikal. Bahkan jumlah mereka lebih dari setengah responden. Ini...

Poltracking: Elektabilitas PDIP Tertinggi, Diikuti Gerindra-Golkar

Tue, 27 Mar 2018 01:12:02am

Jakarta - Survei nasional yang diadakan Poltracking Indonesia menunjukkan mayoritas responden memilih PDIP bila Pemilu Legislatif digelar saat ini....

Survei Poltracking: AHY Cawapres Terkuat untuk Jokowi Maupun Prabowo

Tue, 27 Mar 2018 01:11:59am

Jakarta - Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi kandidat calon wakil presiden dengan elektabilitas tertinggi. AHY mengungguli nama-nama lain, tak...

Poltracking: Jokowi dan Prabowo Capres Terkuat, Pertarungan di Cawapres

Tue, 27 Mar 2018 01:01:23am

Jakarta - Hingga saat ini, hanya ada 2 nama kandidat calon presiden 2019 yang disebut memiliki tingkat keterpilihan yang mumpuni. Dua kandidat capres...

Tiga Nama yang Diprediksi Bersaing Ketat Jadi Cawapres 2019

Tue, 27 Mar 2018 01:01:20am

JAKARTA, KOMPAS.com — Bila nama calon presiden 2019 mencuat kepada dua nama yakni, Jokowi dan Prabowo, lain halnya dengan calon wakil...

Survei Kompas: Elektabilitas Deddy-Dedi Salip Ridwan Kamil-Uu

Tue, 27 Mar 2018 01:01:17am

Bandung - Pasangan Deddy Mizwar - Dedi Mulyadi (DM4) memuncaki hasil survei elektabilitas terbaru Pilgub Jabar. Elektabilitas Deddy - Dedi mencapai...

Survei “Kompas”: Pilkada Jatim, Elektabilitas Khofifah dan Gus Ipul Hanya Selisih 0,5 Persen

Tue, 27 Mar 2018 01:01:15am

KOMPAS.com — Jelang Pilkada Jawa Timur 2018, persaingan dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di daerah ini kian ketat. Hasil...

Survei Poltracking: Khofifah-Emil 42,4%, Gus Ipul-Puti 35,8%

Tue, 27 Mar 2018 01:01:11am

Jakarta - Lembaga survei Poltracking Indonesia merilis hasil survei terhadap calon gubernur dan wakil gubernur Pilkada Jatim 2018. Hasilnya, pasangan...

Survei Polmark Indonesia: Pilkada Jatim, Gus Ipul Raih 42,7 Persen, Khofifah 27,2 Persen

Tue, 27 Mar 2018 12:48:39am

  SURABAYA, KOMPAS.com — Polmark Indonesia merilis hasil survei Pilkada Jatim 2018 di Surabaya, Rabu (14/3/2018). Elektabilitas pasangan...